Jumat, 02 Mei 2014

Berlindung kepada Allah Subhanahuwata’ala dari Empat Hal


Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tanpa bimbingan dari Allah Subhanahu wata’ala niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti. Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ يُسْتَجَابُ لَهَا
 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu)
Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.
1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya. Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.
Ada beberapa hal yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, di antaranya:
a. Ilmu yang dicari untuk mendebati para ulama dan untuk menyombongkan diri di hadapan orang-orang bodoh. Orang yang seperti ini tergolong orang yang bodoh karena dia tidak tahu tujuan menimba ilmu ialah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di atas petunjuk.
b. Menimba ilmu untuk mendapatkan kegemerlapan duniawi dan mencari popularitas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Allah Subhanahu wata’ala, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud dan dinyatakan sahih sanadnya oleh an-Nawawi)
c. Ilmu yang tidak ditebarkan kepada orang lain, apalagi sampai menyembunyikan ilmu dari orang yang sangat membutuhkan. Apabila ia menebarkannya lalu diamalkan oleh orang lain, niscaya akan menjadi amal jariyah baginya. Pahalanya terus mengalir kepadanya sekalipun ia telah mati.
d. Ilmu yang menjurus kepada kemaksiatan dan kekufuran seperti ilmu sihir. Ilmu seperti ini haram untuk dipelajari dan dipraktikkan.
2. Hati yang Tidak Khusyuk
Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya (Allah Subhanahu wata’ala) sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)
Kekhusyukan hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyuk hatinya karena mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Allah Subhanahu wata’ala melihatnya dalamipenentangan terhadap aturan-Nya. Ada juga yang khusyuk karena memandang dahsyatnya hukuman Allah Subhanahu wata’ala kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyuk karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan besarnya anugerah dari- Nya yang tidak bisa dihitung. Allah Subhanahu wata’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dan mempersiapkan surga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyuk, Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)
Seorang yang khusyuk saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Khalik. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyuk dalam shalat menjadi ruh shalat tersebut, dan shalat seorang hamba dinilai dengannya. Ada beberapa hal yang bisa membantu hamba untuk mewujudkan kekhusyukan dalam shalat, di antaranya:
a. Mendatangi shalat dengan tenang dan tidak terburu-buru meskipun iqamat telah dikumandangkan dan shalat sebentar lagi akan ditegakkan.
b. Mendahulukan menyantap hidangan apabila hidangan makanan telah disuguhkan. Hal ini bukan berarti mendahulukan hak diri sendiri di atas hak Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kekhusyukan adalah hak Allah Subhanahu wata’ala yang akan terwujud dengan segera menyantap hidangan makanan yang telah disuguhkan. Nabi n bersabda,“Apabila makan malam telah dihidangkan, mulailah makan malam sebelum shalat maghrib.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)
c. Berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalatnya. Dahulu apabila melewati ayat yang menyebutkan azab, Rasulullah n berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya; apabila melewati ayat yang menyebutkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, beliau memohon rahmat; dan apabila melewati ayat yang mengandung bentuk penyucian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau pun bertasbih.” (HR . Ahmad, Muslim dan Sunan yang empat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)
d. Tidak menahan buang air besar dan buang air kecil.
e. Menyingkirkan segala yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam shalat.
f. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak menoleh, apalagi mengangkat pandangan ke atas. Sebab, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke tanah ketika shalat.
Demikian di antara kiat-kiat untuk khusyuk di dalam shalat. Apabila seorang menjalankan shalat dengan khusyuk, niscaya shalat yang dilakukannya akan bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sesuai dengan tenteramnya hati hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala, setingkat itulah manusia sejuk memandangnya. Khusyuk dalam shalat menjadi sebab diampuninya dosa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَا مِنِ امْرِئٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا إِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يُؤْتَ كَبِيْرَةٌ
“Tiada seseorang yang telah sampai kepadanya (waktu) shalat wajib lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuk, dan rukuknya, kecuali shalat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelum shalat itu, selama dosa besar tidak dilakukan.” (HR . Muslim)
3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas
Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah ruah\ dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih)
Andaikata seorang ingin menuruti nafsu serakahnya terhadap dunia, niscaya habis umurnya untuk sesuatu yang siasia. Kematian akan datang kepadanya padahal keinginan nafsunya belum tercapai seluruhnya. Ketidakpuasan terhadap pemberian Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan beberapa problem hidup yang berdampak serius bagi kelangsungan hidup di dunia ini. Seorang yang rakus terhadap harta akan berusaha mengumpulkan harta tanpa peduli dari jalan apa ia mendapatkannya. Dia akan berani menabrak norma-norma agama dan melepaskan adab-adab kesopanan di tengah-tengah masyarakat. Dia juga akan bakhil terhadap harta yang telah didapat sehingga tidak mau berderma dan menyantuni orang yang papa dan menderita. Orang yang seperti ini dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan tidak disukai oleh manusia. Di antara bentuk ketidakpuasan jiwa adalah tidak ada kepuasan dalam hal makan, minum, dan berpakaian. Untuk mengejar kepuasan semu tersebut, terkadang seorang melampaui batas menggunakannya. Ia berusaha memenuhi kepuasan jiwanya meski harus melanggar aturan agama dan menyelisihi akal sehat. Sikap menerima pemberian Allah Subhanahu wata’ala dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah(HR . Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)
Agar seorang bisa merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wata’ala, ada beberapa faktor yang melandasinya.
a. Melihat dari sisi takdir. Tatkala seorang telah berusaha menggapai cita-cita dengan sepenuh semangat, dibarengi tawakal, kemudian mendapatkan hasil tidak seperti yang dicita-citakan, hendaklah ia yakin bahwa itu adalah suratan takdir sehingga dia ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wata’ala. Dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala bahwa itulah yang terbaik baginya. Sebab, bisa jadi jika Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan rezeki kepadanya sesuai dengan cita-citanya, dia akan lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sombong, dan menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat.
b. Melihat besarnya tanggung jawab. Besarnya nikmat menuntut banyaknya rasa syukur. Jika diberi rezeki melimpah, belum tentu dia bisa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga nikmat itu justru menjadi beban baginya.
c. Melihat orang-orang yang di bawahnya dalam hal harta dan yang semisalnya.
Dengan demikian, dia akan mensyukuri pemberian Allah. Sebab, ternyata masih banyak orang-orang yang lebih mengenaskan kondisinya dibandingkan dengan dirinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kalian. Sebab, hal itu lebih pantas untuk kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)
Maksud “melihat yang lebih rendah” adalah dari sisi harta dan kondisi keduniaan.
4. Doa yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala
Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Allah Subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak merugi, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)
Tidak dikabulkannya doa tidak berarti Allah Subhanahu wata’ala ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya doa. Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah ditanya tentang ayat di atas, bahwa seseorang telah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tetapi belum dikabulkan. Beliau menjawab, “Engkau kenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menaati-Nya. Engkau membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Engkau mengetahui setan, tetapi justru mencocokinya. Engkau mengaku cinta kepada Rasul, namun meninggalkan sunnahnya. Kau mengaku cinta kepada surga, tetapi tidak beramal untuknya. Kau mengaku takut neraka, tetapi tidak berhenti dari dosa. Kau mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi tidak bersiap-siap menghadapinya. Engkau sibuk dengan kesalahan orang dan tidak melihat kesalahan sendiri. Engkau memakan rezeki Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak bersyukur. Engkau pun mengubur orang yang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.” (al-Khusyu’ fi ash-Shalah hlm. 39 karya Ibnu Rajab rahimahullah)
Tiada yang lebih bermanfaat bagi kita dari bermuhasabah (introspeksi diri). Barangkali kita belum tulus ketika memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, kita memohon dengan hati yang lalai dan bermain-main, jauh dari keseriusan, atau tergesa-gesa ingin dikabulkan. Karena tidak kunjung dikabulkan, kemudian kita meninggalkan doa. Hal-hal di atas adalah faktor utama tertundanya jawaban atas permohonan kita. Jangan lupa pula, makanan, minuman, dan pakaian yang haram juga menjadi faktor utama ditolaknya doa. Oleh karena itu, koreksilah diri kita dan ajaklah untuk memenuhi persyaratan doa. Semoga jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala atas doa kita menjadi kenyataan. Jangan pernah kecewa ketika berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Sebab, doa itu sendiri adalah ibadah yang tentu ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, karena Allah Subhanahu wata’ala suka dengan rintihan hamba kepada-Nya. Seandainya segera dikabulkan doanya, bisa jadi dia tidak lagi merintih di hadapan Rabbnya. Akhirulkalam, semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita kepada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, dan selalu menjauhkan kita dari segala kejelekan.(
Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.)

https://www.facebook.com/nuansa.undip?ref=ts&fref=ts

Selasa, 18 Februari 2014

 Ibunda Dua Ulama Besar Bashrah

Adalah sosok ibu yang menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sosok ibu pula yang memberi lingkungan terbaik bagi perkembangan anak-anaknya. Khairah, seorang wanita tabi’in utama, telah membuktikan kebenarannya dan memetik hasilnya.

Dari rahim dan dari madrasahnya telah lahir dua ulama besar. Pertama adalah Hasan bin Yasar—atau lebih dikenal sebagai Hasan Al-Bashri. Betapa Hasan Al-Bashri adalah lautan ilmu dan hikmah yang tak pernah kering untuk dipelajari. Kedua, Sa’ad bin Yasar. Selain pakar hadits, kezuhudan Sa’ad dan kegemarannya beribadah begitu terkenal hingga ia dijuluki sebagai Ar-Rahib. 

Khairah, sang ibunda dua ulama besar ini, sebagai teladan bagi kedua anaknya memang amat mencintai ilmu. Semula dia adalah budak dari Ummu Salamah ra, salah seorang istri Rasulullah saw. Selain melayani keperluan Ummu Salamah, Khairah juga menjadi murid majikannya itu.

Setelah Aisyah ra, Ummu Salamah adalah istri Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadits. Khairah tak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mempelajari hadits dari Ummu Salamah hingga kemudian ia menjadi salah satu wanita periwayat hadits. Khairah sangat baik dalam hal pemahaman, hafalan dan ketelitiannya. Hadits darinya termasuk hadits yang dapat diterima dan dijadikan dalil. Kelak kemudian, semua ulama hadits mengambil hadits dari Khairah, kecuali Imam Bukhari.

Tak hanya dari Ummu Salamah, Khairah pun berkesempatan menimba ilmu dari Aisyah ra. Rumah para Ummahatul Mukminin di Madinah memang berdekatan sehingga amat terbuka peluang bagi Khairah yang bekerja dan belajar di rumah Ummu Salamah untuk belajar pula dari Aisyah ra. Khairah pun meriwayatkan hadits dari Aisyah ra.

Khairah menikah dengan Yasar, budak dari Zaid bin Haritsah ra, salah seorang sahabat Rasulullah. Pernikahan mereka terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Pada masa itu pula Khairah melahirkan Hasan Al-Bashri.

Dikisahkan, sesaat setelah melahirkan, Khairah diundang Ummu Salamah untuk menghabiskan masa nifas di rumah Ummul Mukminin tersebut. Ummu Salamah memang menyayangi Khairah. Beliau pun amat gembira dengan kelahiran Hasan, bahkan sesungguhnya beliaulah yang memberi nama Hasan bagi putra pertama Khairah itu.   

Bekerja kepada Ummu Salamah tak melalaikan Khairah dari memenuhi kewajibannya kepada anak dan suami. Saat bekerja, Hasan dibawanya serta. Bahkan suatu kali, Hasan pernah disusui oleh Ummu Salamah karena ibunya sedang keluar rumah memenuhi tugas dari Ummu Salamah sendiri.

Saat Hasan berusia 14 tahun, Khairah dan Yasar pindah ke Bashrah, Irak. Kota Bashrah yang saat itu bertaburan ilmu dan ulama, seperti Abdullah bin Abbas ra, adalah tempat yang baik bagi anak-anak Khairah untuk memperdalam ilmu mereka. Di sinilah kelak anak-anak Khairah menjadi bintang dan tujuan orang saat menuntut ilmu. Bahkan kemudian Hasan mendapat julukan “Al-Bashri” yang merujuk kota tempat tinggalnya.

Ilmu akan semakin berkah bila terus dibagi. Begitu pun Khairah. Meski usia telah lanjut namun Khairah tak berhenti memberi ilmu dan nasihat yang didapatnya dari Ummu Salamah ra dan Aisyah ra kepada kaum perempuan di kota Bashrah. Ia meninggal dalam usia lanjut yang penuh berkah, walau tak ada catatan pasti tentang tahun wafatnya.

Sumber :  http://www.ummi-online.com/berita-597-ibunda-dua-ulama-besar-bashrah.html

Sabtu, 01 Februari 2014

 5 Keutamaan Shaf Pertama

Menempati shaf pertama dalam shalat berjama’ah, bagi muslim laki-laki, memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut ini 5 keutamaan shaf pertama yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih (minimal hasan) sebagaimana telah dihimpun Imam An Nawawi dalam kitab Riyadhush Shalihin:

1. Mendapatkan shalawat dari Allah dan Malaikat

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat bersalawat untuk shaf-shaf pertama” (HR. Abu Dawud; hasan)

2. Pahalanya sangat besar

 
 “Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala azan dan shaf pertama, kemudian untuk mendapatkannya harus diundi, niscaya mereka akan mengadakan undian.” (Muttafaq ‘alaih)

3. Seperti shaf Malaikat

 Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami dan bersabda, ‘Tidakkah kalian ingin bershaf seperti shaf Malaikat di hadapan Tuhannya?’ Kami (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana Malaikat bershaf di hadapan Tuhannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf awal dan merapatkan shaf.” (HR. Muslim)

4. Shaf terbaik bagi laki-laki

“Shaf kaum lelaki yang paling baik adalah shaf pertama dan shaf yang paling jelek adalah shaf terakhir. Sedangkan shaf kaum wanita yang paling baik adalah shaf terakhir dan yang paling jelek adalah shaf pertama.” (HR. Muslim)


5. Terhindar dari kemunduran

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para sahabat mundur ke belakang. Maka beliau pun bersabda, “Majulah dan ikutilah aku. Shaf yang di belakangnya mengikuti shaf depannya. Kaum yang selalu mundur (dalam bershaf), Allah akan memundurkan mereka.” (HR. Muslim)
Tiga Keutamaan Menjaga Wudhu


1. Orang yang menjaga wudhu dijaga keimanannya


“.. dan ketahuilah sebaik-baik amal kalian adalah shalat dan tidaklah menjaga wudhu melainkan orang-orang yang beriman.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad; shahih)

2. Menjaga wudhu membuat Bilal dijamin masuk surga

Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Bilal radhiyallahu 'anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga". Bilal berkata; "Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu') pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu' tersebut di samping shalat wajib". (HR. Bukhari)

3. Menghapus dosa, meninggikan derajat, dinilai ribath

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kalian untuk aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?" Mereka (para sahabat) menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudhu pada kondisi yang susah (seperti keadaan yang sangat dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath." (HR. Muslim)

Demikian 3 keutamaan menjaga wudhu, semoga kita dapat berupaya mengamalkannya dan meraih keutamaan tersebut. Wallahu a’lam bish shawab.

Sabtu, 25 Januari 2014

Ketika Rasa Dengki Muncul Di Hati

Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz ditanya oleh seorang wanita: “Saya ingin bertaubat kepada Allah dari sifat hasad. Saya sudah berusaha untuk lepas dari sifat tersebut semampu saya, namun setan senantiasa menggoda saya untuk kembali pada sifat tersebut dalam banyak kesempatan melalui jalan iri hati. Ketika saya iri kepada teman saya atau kepada para wanita yang lain, lalu saya pun hasad. Saya dengar perkataan dari sahabat saya, katanya: “tahan saja rasa irimu dan hasadmu di hati dan jangan sampai terucap di mulut, sehingga Allah tidak menganggapnya dosa”.

Beliau menjawab:
Ya, jika anda hasad (dengki), maka lawanlah sekuat tenaga dalam hati anda. tahan rasa hasad tersebut dan jangan sampai anda melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Jangan sampai anda memberi gangguan pada orang yang anda dengki. Baik dengan perkataan maupun perbuatan.  Mintalah kepada Allah untuk mencondongkan hati anda dan agar tidak menjerumuskan hati anda pada sifat yang berbahaya. 

Ketika seseorang hasad namun ia tidak mewujudkannya dalam suatu aksi maka itu tidak membuatnya berdosa selama ia tidak melakukan apa-apa. Tidak memberi gangguan pada orang yang dihasadi dan juga tidak berusaha menghilangkan nikmat yang ia dapatkan. Jangan bicara apapun yang dapat merusak kehormatannya. Apapun yang anda ketahui pada dirinya maka tahan saja dalam hati, ini tidak membuat anda berdosa.

Namun anda harus tetap waspada agar tidak mengatakan sesuatu apapun atau melalukan apapun yang mengganggu orang yang yang anda dengki. Terdapat hadits dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

jauhilah hasad karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar

Hasad itu khabits (hal tercela). Namun hasad ini pertama kali menganggu orang yang memilikinya, hasad akan meresahkan pemiliknya sebelum akhirnya ia membuat gangguan pada orang lain. Maka hendaknya seorang mukmin itu senantiasa waspada terhadap sifat ini dengan terus berdoa kepada Allah memohon ‘afiyah (keselamatan diri dari keburukan). Seorang mukmin itu tunduk kepada Allah, demikian juga dalam hal ini ia hendaknya merendahkan diri kepada Allah memohon untuk dihilangkan sifat hasad ini dari hatinya. Sehingga tidak tersisa lagi sedikit pun. Dan ketika anda merasa hasad itu akan muncul, berjuanglah dalam hati anda untuk menahannya di dalam hati dan menahan diri untuk tidak memberi gangguan kepada orang yang anda dengki. Baik perkataan maupun perbuatan. Wallahul musta’an.

Sabtu, 07 Desember 2013



Keutamaan Puasa Senin-Kamis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya).

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Keutamaan hari Senin dan Kamis secara umum dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565).

Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya "Ar-Rayyan," yang akan di masuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. di katakan : manakah orang-orang yang suka berpuasa? maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu di tutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi." (HR Bukhori dan Muslim)

"Dari 'Aisyah -radhiallahu 'anha- : bahwa Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam- sering melakukan puasa senin dan kamis." (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan An-Nasai)


Rahasia Ilmiah dibalik Puasa Senin-Kamis
Berpuasa, sudah lama diketahui sangat baik untuk kesehatan. Apalagi sekarang manfaat berpuasa untuk kesehatan makin terbukti secara ilmiah. Bahkan para peneliti menyarankan bahwa sebaiknya mulai kembali berpuasa karena terbukti puasa dua hari dalam satu pekan sangat bermanfaat untuk kesehatan hormon dan perubahan metabolisme. 

Puasa yang dimaksud adalah mengkonsumsi makanan hanya sekitar 500-800 kalori. Bandingkan dengan asupan harian sekitar 2.000 kalori untuk perempuan dan 2.500 kalori untuk pria.

Asupan itu bisa menurunkan tingkat pertumbuhan hormon yang terkait dengan kanker dan diabetes. serta mengurangi kolesterol buruk LDL dan lemak dalam darah. Sedangkan radikal bebas juga menurun. Dari hasil penelitian ini juga terbukti bahwa tingkat peradangan dapat berkurang. Bahkan, disebutkan pula berpuasa dapat melindungi otak. Maka, risiko penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson pun bisa dikurangi. 

Menurut Profesor Mark Mattson, kepala bagian saraf di US National Institute on Ageing, Puasa dapat menurunkan secara drastis asupan makanan memicu proses protektif di otak. Ini sama dengan mendapatkan efek tambahan ketika olahraga. 

Seorang dokter ahli asal Rusia, dr. Yuri Nikolayev menganggap puasa sebagai penemuan terbesar dalam bidang kesehatan. Puasa mampu membuat seseorang menjadi awet muda dan sehat secara fisik, mental, dan spiritual. Bahkan, sebuah lembaga di Amerika Serikat menyebutkan puasa sebagai cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik perempuan secara alami.

 Manfaat dari puasa senin kamis 

1. Puasa meningkatkan proses eliminasi dan meningkatkan pelepasan racun dari usus, ginjal, dan kandung kemih, paru-paru, dan saluran pernapasan, sinus, dan kulit.

2. Tanpa makan di siang hari orang membiarkan sistem pencernaan beristirahat.

Meminimalkan beban kerja pada organ pencernaan, usus, lambung, hati, kandung empedu, pankreas, dan ginjal, bisa memperbaiki dalam memulihkan diri.

3. Energi yang biasanya dikeluarkan pada proses pencernaan dibebaskan sehingga bisa fokus meningkatkan kesehatan, vitalitas, dan mempertajam fungsi pikiran.

4. Ketika berpuasa energi lebih tinggi, lebih konsentrasi dan lebih besar kesadaran spiritual, serta lebih bersih mentalnya.

5. Puasa bisa menjadi obat untuk sejumlah masalah kesehatan

6. Puasa merupakan metode baik untuk mengatasi kecanduan kopi, merokok, dan obat-obatan.

7. Puasa merupakan katalisator bagi perubahan dan perkembangan pribadi serta motivator ampuh untuk menghentikan kebiasan yang tidak sehat.


-Departemen Ekonomi Syariah Nuansa-


TOKOH INSPIRATIF MUSLIMAH INDONESIA


Dr. Elly Warti Maliki, MA lahir di Padang 30 Oktober 1959 adalah seorang aktivis, profesional dan ahli ilmu Fikih Islam berkebangsaan Indonesia. Ia berkarir profesional sebagai Staf Konsulat Agung Negara Brunei Darussalam di Jeddah, Arab Saudi. Ia merupakan pendiri sekaligus pimpinan Taman Pendidikan Al-Qur’an dan Bahasa Arab “Darul ‘Ulum”, Jeddah, Arab Saudi.

Elly juga duduk sebagai anggota Dewan Pakar di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) untuk wilayah Timur Tengah. Ia bersama beberapa orang temannya merupakan pendiri sekaligus menjabat ketua Wihdah, suatu organisasi mahasiswi Indonesia di Kairo, Mesir. Organisasi yang didirikan pada tahun 1988 itu telah beranggotakan lebih dari 300 orang.

Ely Warti Maliki juga seorang ibu rumah tangga yang meraih gelar doktor bidang ilmu fikih dari Universitas Al-Azhar Mesir dengan nilai summa cumlaude (mumtaz). Meraih gelar doktor di Al Azhar bukanlah hal yang mudah. Universitas Islam tertua ini dikenal salah satu lembaga pendidikan Islam yang paling susah memberikan gelar doktor. Namun, istri Adywarman Arby ini berhasil meraihnya dengan gemilang.

Keberhasilan Elly tentu tak diraih dalam sekejap. Butuh perjuangan panjang dan melelahkan. ”Untuk mencapai itu semua, saya harus pandai membagi waktu dan mengatur pekerjaan,” terang wanita enerjik ini. Begitupun untuk meraih kesempatan menjadi doktor, ia harus menunggu anak-anaknya beranjak dewasa dulu.”Saya tidak ingin masa depan anak-anak terkorbankan karena studi saya,” jelasnya. Menurut Elly, tidak seharusnya seorang ibu mengorbankan keluarganya demi mengejar karier atau pendidikan. ”Prinsip kami, tidak boleh ada yang dikorbankan. Namun harus ada yang diutamakan,” lanjutnya. Dengan prinsip ini ia merasakan segala sesuatu yang direncanakan bersama seluruh keluarganya bisa berjalan dengan baik. Kini, setelah gelar doktor diraihnya, ia berencana menularkan segala ilmu yang dimilikinya untuk kaum muda Indonesia. Ia ingin mengajar di Fakultas Dirasah Islamiyah Universitas Islam Negeri, Jakarta.

-Departemen An Nisa Nuansa-