Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Berlindung kepada Allah Subhanahuwata’ala dari Empat Hal


Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tanpa bimbingan dari Allah Subhanahu wata’ala niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti. Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ يُسْتَجَابُ لَهَا
 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu)
Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.
1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya. Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.
Ada beberapa hal yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, di antaranya:
a. Ilmu yang dicari untuk mendebati para ulama dan untuk menyombongkan diri di hadapan orang-orang bodoh. Orang yang seperti ini tergolong orang yang bodoh karena dia tidak tahu tujuan menimba ilmu ialah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di atas petunjuk.
b. Menimba ilmu untuk mendapatkan kegemerlapan duniawi dan mencari popularitas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Allah Subhanahu wata’ala, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud dan dinyatakan sahih sanadnya oleh an-Nawawi)
c. Ilmu yang tidak ditebarkan kepada orang lain, apalagi sampai menyembunyikan ilmu dari orang yang sangat membutuhkan. Apabila ia menebarkannya lalu diamalkan oleh orang lain, niscaya akan menjadi amal jariyah baginya. Pahalanya terus mengalir kepadanya sekalipun ia telah mati.
d. Ilmu yang menjurus kepada kemaksiatan dan kekufuran seperti ilmu sihir. Ilmu seperti ini haram untuk dipelajari dan dipraktikkan.
2. Hati yang Tidak Khusyuk
Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya (Allah Subhanahu wata’ala) sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)
Kekhusyukan hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyuk hatinya karena mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Allah Subhanahu wata’ala melihatnya dalamipenentangan terhadap aturan-Nya. Ada juga yang khusyuk karena memandang dahsyatnya hukuman Allah Subhanahu wata’ala kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyuk karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan besarnya anugerah dari- Nya yang tidak bisa dihitung. Allah Subhanahu wata’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dan mempersiapkan surga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyuk, Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)
Seorang yang khusyuk saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Khalik. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyuk dalam shalat menjadi ruh shalat tersebut, dan shalat seorang hamba dinilai dengannya. Ada beberapa hal yang bisa membantu hamba untuk mewujudkan kekhusyukan dalam shalat, di antaranya:
a. Mendatangi shalat dengan tenang dan tidak terburu-buru meskipun iqamat telah dikumandangkan dan shalat sebentar lagi akan ditegakkan.
b. Mendahulukan menyantap hidangan apabila hidangan makanan telah disuguhkan. Hal ini bukan berarti mendahulukan hak diri sendiri di atas hak Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kekhusyukan adalah hak Allah Subhanahu wata’ala yang akan terwujud dengan segera menyantap hidangan makanan yang telah disuguhkan. Nabi n bersabda,“Apabila makan malam telah dihidangkan, mulailah makan malam sebelum shalat maghrib.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)
c. Berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalatnya. Dahulu apabila melewati ayat yang menyebutkan azab, Rasulullah n berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya; apabila melewati ayat yang menyebutkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, beliau memohon rahmat; dan apabila melewati ayat yang mengandung bentuk penyucian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau pun bertasbih.” (HR . Ahmad, Muslim dan Sunan yang empat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)
d. Tidak menahan buang air besar dan buang air kecil.
e. Menyingkirkan segala yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam shalat.
f. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak menoleh, apalagi mengangkat pandangan ke atas. Sebab, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke tanah ketika shalat.
Demikian di antara kiat-kiat untuk khusyuk di dalam shalat. Apabila seorang menjalankan shalat dengan khusyuk, niscaya shalat yang dilakukannya akan bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sesuai dengan tenteramnya hati hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala, setingkat itulah manusia sejuk memandangnya. Khusyuk dalam shalat menjadi sebab diampuninya dosa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَا مِنِ امْرِئٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا إِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يُؤْتَ كَبِيْرَةٌ
“Tiada seseorang yang telah sampai kepadanya (waktu) shalat wajib lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuk, dan rukuknya, kecuali shalat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelum shalat itu, selama dosa besar tidak dilakukan.” (HR . Muslim)
3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas
Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah ruah\ dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih)
Andaikata seorang ingin menuruti nafsu serakahnya terhadap dunia, niscaya habis umurnya untuk sesuatu yang siasia. Kematian akan datang kepadanya padahal keinginan nafsunya belum tercapai seluruhnya. Ketidakpuasan terhadap pemberian Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan beberapa problem hidup yang berdampak serius bagi kelangsungan hidup di dunia ini. Seorang yang rakus terhadap harta akan berusaha mengumpulkan harta tanpa peduli dari jalan apa ia mendapatkannya. Dia akan berani menabrak norma-norma agama dan melepaskan adab-adab kesopanan di tengah-tengah masyarakat. Dia juga akan bakhil terhadap harta yang telah didapat sehingga tidak mau berderma dan menyantuni orang yang papa dan menderita. Orang yang seperti ini dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan tidak disukai oleh manusia. Di antara bentuk ketidakpuasan jiwa adalah tidak ada kepuasan dalam hal makan, minum, dan berpakaian. Untuk mengejar kepuasan semu tersebut, terkadang seorang melampaui batas menggunakannya. Ia berusaha memenuhi kepuasan jiwanya meski harus melanggar aturan agama dan menyelisihi akal sehat. Sikap menerima pemberian Allah Subhanahu wata’ala dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah(HR . Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)
Agar seorang bisa merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wata’ala, ada beberapa faktor yang melandasinya.
a. Melihat dari sisi takdir. Tatkala seorang telah berusaha menggapai cita-cita dengan sepenuh semangat, dibarengi tawakal, kemudian mendapatkan hasil tidak seperti yang dicita-citakan, hendaklah ia yakin bahwa itu adalah suratan takdir sehingga dia ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wata’ala. Dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala bahwa itulah yang terbaik baginya. Sebab, bisa jadi jika Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan rezeki kepadanya sesuai dengan cita-citanya, dia akan lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sombong, dan menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat.
b. Melihat besarnya tanggung jawab. Besarnya nikmat menuntut banyaknya rasa syukur. Jika diberi rezeki melimpah, belum tentu dia bisa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga nikmat itu justru menjadi beban baginya.
c. Melihat orang-orang yang di bawahnya dalam hal harta dan yang semisalnya.
Dengan demikian, dia akan mensyukuri pemberian Allah. Sebab, ternyata masih banyak orang-orang yang lebih mengenaskan kondisinya dibandingkan dengan dirinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kalian. Sebab, hal itu lebih pantas untuk kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)
Maksud “melihat yang lebih rendah” adalah dari sisi harta dan kondisi keduniaan.
4. Doa yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala
Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Allah Subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak merugi, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)
Tidak dikabulkannya doa tidak berarti Allah Subhanahu wata’ala ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya doa. Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah ditanya tentang ayat di atas, bahwa seseorang telah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tetapi belum dikabulkan. Beliau menjawab, “Engkau kenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menaati-Nya. Engkau membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Engkau mengetahui setan, tetapi justru mencocokinya. Engkau mengaku cinta kepada Rasul, namun meninggalkan sunnahnya. Kau mengaku cinta kepada surga, tetapi tidak beramal untuknya. Kau mengaku takut neraka, tetapi tidak berhenti dari dosa. Kau mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi tidak bersiap-siap menghadapinya. Engkau sibuk dengan kesalahan orang dan tidak melihat kesalahan sendiri. Engkau memakan rezeki Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak bersyukur. Engkau pun mengubur orang yang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.” (al-Khusyu’ fi ash-Shalah hlm. 39 karya Ibnu Rajab rahimahullah)
Tiada yang lebih bermanfaat bagi kita dari bermuhasabah (introspeksi diri). Barangkali kita belum tulus ketika memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, kita memohon dengan hati yang lalai dan bermain-main, jauh dari keseriusan, atau tergesa-gesa ingin dikabulkan. Karena tidak kunjung dikabulkan, kemudian kita meninggalkan doa. Hal-hal di atas adalah faktor utama tertundanya jawaban atas permohonan kita. Jangan lupa pula, makanan, minuman, dan pakaian yang haram juga menjadi faktor utama ditolaknya doa. Oleh karena itu, koreksilah diri kita dan ajaklah untuk memenuhi persyaratan doa. Semoga jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala atas doa kita menjadi kenyataan. Jangan pernah kecewa ketika berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Sebab, doa itu sendiri adalah ibadah yang tentu ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, karena Allah Subhanahu wata’ala suka dengan rintihan hamba kepada-Nya. Seandainya segera dikabulkan doanya, bisa jadi dia tidak lagi merintih di hadapan Rabbnya. Akhirulkalam, semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita kepada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, dan selalu menjauhkan kita dari segala kejelekan.(
Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.)

https://www.facebook.com/nuansa.undip?ref=ts&fref=ts

Sabtu, 01 Februari 2014

 5 Keutamaan Shaf Pertama

Menempati shaf pertama dalam shalat berjama’ah, bagi muslim laki-laki, memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut ini 5 keutamaan shaf pertama yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih (minimal hasan) sebagaimana telah dihimpun Imam An Nawawi dalam kitab Riyadhush Shalihin:

1. Mendapatkan shalawat dari Allah dan Malaikat

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat bersalawat untuk shaf-shaf pertama” (HR. Abu Dawud; hasan)

2. Pahalanya sangat besar

 
 “Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala azan dan shaf pertama, kemudian untuk mendapatkannya harus diundi, niscaya mereka akan mengadakan undian.” (Muttafaq ‘alaih)

3. Seperti shaf Malaikat

 Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami dan bersabda, ‘Tidakkah kalian ingin bershaf seperti shaf Malaikat di hadapan Tuhannya?’ Kami (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana Malaikat bershaf di hadapan Tuhannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf awal dan merapatkan shaf.” (HR. Muslim)

4. Shaf terbaik bagi laki-laki

“Shaf kaum lelaki yang paling baik adalah shaf pertama dan shaf yang paling jelek adalah shaf terakhir. Sedangkan shaf kaum wanita yang paling baik adalah shaf terakhir dan yang paling jelek adalah shaf pertama.” (HR. Muslim)


5. Terhindar dari kemunduran

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para sahabat mundur ke belakang. Maka beliau pun bersabda, “Majulah dan ikutilah aku. Shaf yang di belakangnya mengikuti shaf depannya. Kaum yang selalu mundur (dalam bershaf), Allah akan memundurkan mereka.” (HR. Muslim)
Tiga Keutamaan Menjaga Wudhu


1. Orang yang menjaga wudhu dijaga keimanannya


“.. dan ketahuilah sebaik-baik amal kalian adalah shalat dan tidaklah menjaga wudhu melainkan orang-orang yang beriman.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad; shahih)

2. Menjaga wudhu membuat Bilal dijamin masuk surga

Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Bilal radhiyallahu 'anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga". Bilal berkata; "Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu') pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu' tersebut di samping shalat wajib". (HR. Bukhari)

3. Menghapus dosa, meninggikan derajat, dinilai ribath

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kalian untuk aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?" Mereka (para sahabat) menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudhu pada kondisi yang susah (seperti keadaan yang sangat dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath." (HR. Muslim)

Demikian 3 keutamaan menjaga wudhu, semoga kita dapat berupaya mengamalkannya dan meraih keutamaan tersebut. Wallahu a’lam bish shawab.

Sabtu, 25 Januari 2014

Ketika Rasa Dengki Muncul Di Hati

Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz ditanya oleh seorang wanita: “Saya ingin bertaubat kepada Allah dari sifat hasad. Saya sudah berusaha untuk lepas dari sifat tersebut semampu saya, namun setan senantiasa menggoda saya untuk kembali pada sifat tersebut dalam banyak kesempatan melalui jalan iri hati. Ketika saya iri kepada teman saya atau kepada para wanita yang lain, lalu saya pun hasad. Saya dengar perkataan dari sahabat saya, katanya: “tahan saja rasa irimu dan hasadmu di hati dan jangan sampai terucap di mulut, sehingga Allah tidak menganggapnya dosa”.

Beliau menjawab:
Ya, jika anda hasad (dengki), maka lawanlah sekuat tenaga dalam hati anda. tahan rasa hasad tersebut dan jangan sampai anda melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Jangan sampai anda memberi gangguan pada orang yang anda dengki. Baik dengan perkataan maupun perbuatan.  Mintalah kepada Allah untuk mencondongkan hati anda dan agar tidak menjerumuskan hati anda pada sifat yang berbahaya. 

Ketika seseorang hasad namun ia tidak mewujudkannya dalam suatu aksi maka itu tidak membuatnya berdosa selama ia tidak melakukan apa-apa. Tidak memberi gangguan pada orang yang dihasadi dan juga tidak berusaha menghilangkan nikmat yang ia dapatkan. Jangan bicara apapun yang dapat merusak kehormatannya. Apapun yang anda ketahui pada dirinya maka tahan saja dalam hati, ini tidak membuat anda berdosa.

Namun anda harus tetap waspada agar tidak mengatakan sesuatu apapun atau melalukan apapun yang mengganggu orang yang yang anda dengki. Terdapat hadits dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

jauhilah hasad karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar

Hasad itu khabits (hal tercela). Namun hasad ini pertama kali menganggu orang yang memilikinya, hasad akan meresahkan pemiliknya sebelum akhirnya ia membuat gangguan pada orang lain. Maka hendaknya seorang mukmin itu senantiasa waspada terhadap sifat ini dengan terus berdoa kepada Allah memohon ‘afiyah (keselamatan diri dari keburukan). Seorang mukmin itu tunduk kepada Allah, demikian juga dalam hal ini ia hendaknya merendahkan diri kepada Allah memohon untuk dihilangkan sifat hasad ini dari hatinya. Sehingga tidak tersisa lagi sedikit pun. Dan ketika anda merasa hasad itu akan muncul, berjuanglah dalam hati anda untuk menahannya di dalam hati dan menahan diri untuk tidak memberi gangguan kepada orang yang anda dengki. Baik perkataan maupun perbuatan. Wallahul musta’an.

Kamis, 05 Desember 2013

BERBAKTI PADA KEDUA ORANG TUA

Pengorbanan seorang IBU terhadap anak-anaknya takkan pernah ada habisnya.   
INI Buktinya !
1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, "Cepatlah makan, ibu tidak lapar”
2.Waktu makan, Ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, "ibu tidak suka daging, makanlah, nak.." 
3.Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yg sakit, Ia berkata, "Istirahatlah nak, ibu akan menunggu disampingmu.." 
4.Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang
5.Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya utk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, "Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggl di sana."
6.Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, ibu tidak apa apa." Ini adalah pengorbanan terakhir yang dibuat ibu
Tidak seberapa dewasanya kita, ibu selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya. Semoga semua anak di dunia ini bisa menghargai setiap pengorbanan seorang IBU.
 
Islam merupakan agama yang senantiasa memuliakan umatnya. Tak terkecuali orang tua, mereka diposisikan pada tempat yang sangat mulia. Segala macam yang telah orang tua curahkan kepada anak-anaknya, sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan yang setinggi-tingginya. Semua harta, tenaga bahkan nyawa mereka sekalipun, siap mereka persembahkan untuk buah hati tercinta. 

Kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tua yang islam ajarkan merupakan salah satu bukti upaya pemuliaan tersebut. Bahkan keridhoan Allah, Zat yang menggenggam dan mengatur kehidupan ini, yang berkuasa tehadap segala sesuatu di dunia dan akherat, tergatung ridho orang tua. Hal ini jelas bentuk pemuliaan kepada orang tua yang Islam ajarkan. 

Berbakti kepada kedua orang tua atau dalam bahasa arab Birrul walidain adalah ibadah yang sangat mulia. Berbakti dan berbuat baik terhadap keduanya tidaklah terbatas semasa hidupnya saja, setelah meninggalnya pun kewajiban birrul walidain tidaklah terputus dan tetap harus diamalkan.

Namun, sangat disayangkan, kebanyakkan manusia baru ingat akan kebaikan orang tua ketika ajalsudah menjemput keduanya atau salah satunya. Kemudian ia menyesali keluputannya dari berbaktinya saat kedua orang tuanya masih hidup, dan ia berusaha mengamalkan baktinya setelah wafatnya. 

Akan tetapi, tak jarang mereka salah dalam mengaplikasikan kebaktian terhadap kedua orang tuanya setelah wafatnya. Bahkan mereka hanya antusias di awal-awal wafatnya, namun lambat laun kebaktian akan keduanya pun sirna tertelan masa dan kesibukan bersama keluarga barunya.

Melaksanakan Birrul Walidain

a) Semasa Mereka Masih Hidup           

1. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah

Sa’ad bin Abi Waqas – semoga Allah merahmatinya –  menerapkan bagaiman konteks Birrul Walidain mempertahankan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat ibunya mengetahui bahwa Sa’ad memeluk agama Islam, ibunya mempengaruhi dia agar keluar dari Islam sedangkan Sa’ad terkenal sebagai anak muda yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ibunya sampai mengancam kalau Sa’ad tidak keluar dari Islam maka ia tidak akan makan dan minum sampai mati. Dengan kata-kata yang lembut Sa’ad merayu ibunya “ Jangan kau lakukan hal itu wahai Ibunda, tetapi saya tidak akan meninggalkan agama ini walau apapun gantinya atau risikonya”.

Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman: 15)

Tidak bosan-bosannya Sa’ad menjenguk ibunya dan tetap berbuat baik kepadanya serta menegaskan hal yang sama dengan lemah lembut sampai suatu ketika ibunya menyerah dan menghentikan mogok makannya.

2. Berbakti dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapanya…” (QS. Al-Ahqaaf: 15)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapa…” (QS. An-Nisaa’: 36)
Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga keadaan mereka melemah dan sangat memerlukan bantuan dan perhatian daripada anaknya.

Abu Bakar As Siddiq ra. adalah sahabat Rasulullah SAW yang patut ditauladani dalam berbaktinya terhadap orang tua. Disaat orang tuanya telah memasuki usia yang sangat udzur, beliau masih melayan bapaknya dengan lemah lembut dan tidak pernah putus asa untuk mengajak ayahnya beriman kepada Allah. Penantian beliau yang cukup lama berakhir apabila ayahnya menerima tawaran untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman dalam QS. 14 : 40 – 41 ayat yang do’a agar anak, cucu dan seluruh anggota keluarganya menjadi orang-orang yang muqiimas. Solat (mendirikan Solat) dan diampuni dosa-dosanya. Ayat ini merupakan suatu kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada kelurga Abu Bakar As Siddiq ra.

3. Merendahkan Diri Di Hadapan Keduanya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS. Al-Israa’: 23-24)

4. Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka

Nabi Ibrahim ‘alaihiisalam mempunyai ayah yang bernama Azar yang aqidah-nya menyalahi dengan Nabi Ibrahim ‘alaihiisalam tetapi tetap menunjukan birrul walidain yang dilakukan seorang anak kepada bapaknya. Dalam menegur ayahnya beliau menggunakan kata-kata yang mulia dan ketika mengajak ayahnya agar kejalan yang lurus dengan kata-kata yang lembut sebagaimana dikisahkan Allah pada QS. 19 : 41-45.


b) Apabila Mereka Meninggal Dunia 

1. Mensholati/Berdo’a terhadap Keduanya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akan dirinya.” (HR. Muslim)

2. Beristighfar Untuk Mereka Berdua

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam Al-Qur’an:
“Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” (QS. Ibrahim: 41)

3. Menunaikan Janji/Wasiat Kedua Orang Tua
4. Memuliakan Rekan-Rekan Kedua Orang Tua

Ibnu Umar berkata aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.” (HR. Muslim)

5. Menyambung Tali Silaturahim Dengan Kerabat Ibu dan Ayah

“Barang siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka sambunglah tali silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” (HR. Ibnu Hibban)

Rasulullah SAW. yang telah ditinggal ayahnya Abdullah kerana meninggal dunia saat Rasulullah SAW. masih dalam kandungan ibunya Aminah. Dalam pendidikan birrul walidain ibunya mengajak Rasulullah ketika berusia enam  tahun untuk berziarah kemakam ayahnya dengan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanan pulang ibunda beliau jatuh sakit tepatnya didaerah Abwa hingga akhirnya meninggal dunia. Setelah itu Rasulullah diasuh oleh pamannya Abdul Thalib, beliau menunjukan sikap yang mulia kepada pamannya walaupun aqidah pamannya berbeda dengan Rasulullah. Dan Rasulullah SAW. berbakti pula kepada pengasuhnya yang bernama Sofiah binti Abdil Mutthalib.
-Departemen Syiar Nuansa-



Jumat, 08 November 2013



Hijab is my choice


Hai Nabi katakanlah kepada istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al – Ahzab 59)


Hijab dan Akhlak


Banyak muslimah ketika ditanya mengenai alasan mereka tidak mengenakan hijab/jilbab menjawab seperti ini “Saya belum siap” atau “akhlak saya belum cukup baik” atau alasan lain yang serupa. Padahal sesungguhnya hijab dan akhlak adalah dua perkara yang berbeda. Hijab merupakan penutup aurat bagi muslimah. Hukum untuk berhijab wajib bagi muslimah tanpa memandang akhlaknya baik atau buruk. Sedangkan akhlak adalah budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing – masing.


Ada juga kasus seperti ini “Dia berjilbab namun kelakuannya buruk”. Hijab memang terkadang menjadi tolok ukur perilaku seseorang. Tapi, saat perilaku seseorang itu buruk maka kita tidak boleh menyalahkan hijabnya. Mungkin wanita itu belum memahami dengan baik tentang ajaran agama. Walaupun demikian, alangkah lebih baik jika kita berhijab dan memiliki akhlak yang baik.


Hal lain yang menghalangi muslimah untuk berhijab adalah kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Memang ada beberapa pekerjaan yang belum mengizinkan wanita untuk berhijab atau ada juga pekerjaan yang meminta muslimah untuk melepas hijabnya. Nah, bagaimana jika seperti ini? Jawabannya Rezeki itu Allah yang mengatur. Bagaimana mungkin Allah akan menghambat rezeki bagi seseorang yang menjalankan perintahnya? Yakinlah ketika kita tidak mendapatkan perkerjaan akibat berhijab, maka perkerjaan itu memang tidak baik bagi kita. Dan temukanlah keajaiban bahwa ternyata diri muslimah yang berhijab ini banyak dihampiri oleh pekerjaan-pekerjaan yang penuh berkah dimana hijab dan dirinya sangat dihargai.


Motivasi Berhijab dan Hijabers


Saat ini muncul juga trend berhijab yang dikenal dengan hijabers. Tak dapat dipungkiri bahwa hijabers ini menjadi daya tarik tersendiri bagi muslimah di Indonesia.  Banyak di antara mereka memutuskan untuk mengenakan kerudung dan menutup aurat setelah bergabung dengan komunitas ini.  Keinginan mereka untuk menutup aurat namun tetap tampil cantik dan modis tersalurkan.

Sekalipun di sisi tersebut positif, ada beberapa hal yang perlu diluruskan dari pemahaman para hijabers ini terkait dengan gaya menutup aurat mereka.  Dari pemahaman dasar yang memotivasi mereka menutup aurat, standar yang mereka gunakan, tujuan dari menutup aurat, sampai pada hukum syara’ terkait dengan tata cara menutup aurat.


Karena itu, saat kita memutuskan untuk berhijab kita luruskan dulu bahwa niat kita berhijab adalah untuk mematuhi perintah Allah dan bukan karena ingin terlihat cantik dan modis atau sebagainya. Kemudian untuk cara kita memakai hijab hal yang perlu diperhatikan adalah hijab yang kita pakai haruslah menutup aurat kita ( menutup dada).


Pakailah hijabmu seraya tidak sekedar berniat untuk melakukan suatu hal yang wajib dari perintah Allah. Jangan kamu memakai hijab hanya untuk fashion belaka, atau memakai hijab untuk menutupi kejelekan sifatmu. Ikhlaslah memakai hijab untuk kebaikan dirimu, dan jadikan hijab sebagai kebutuhanmu, niscaya kelak kamu akan merasakan manfaat hijabmu.

- Departemen An-Nisa Nuansa -


Rabu, 09 Oktober 2013



Meraih Cinta Allah Dunia dan Akhirat

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah:165).

Cinta adalah sebuah anugerah dari Allah yang mewarnai hidup manusia. Cinta membuat manusia bisa berbuat apa saja. Sebesar apapun resikonya mereka akan tetap maju tanpa memperhatikan aral yang melintang. Hakikat sebuah cinta yang sebenarnya adalah Allah. Ketika kita menyukai seseorang itu hanyalah cinta yang bersifat fana dan akan sirna seiring dengan berjalannya masa. Tapi cinta kepada Allah akan kekal abadi sampai akhir zaman. Ketika saudara-saudara kita mengatakan cinta hanya kepada Allah, berarti mereka telah berikrar dan berkomitmen selalu menyertakan Allah dalam setiap detik dalam hidupnya, kemanapun dan dimanapun ia berada.  Allah SWT berjanji dengan janji yang pasti ditepati, dalam Al-Qur'an : "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang bertaubat dan orang yang mensucikan dirinya...." didalam ayat lain : "Amat sangat beruntung, sukses, menang, orang yang mensucikan jiwanya dan merugi orang yang mengotorinya...". Dengan kata lain : Apapun..., yang membuat kita bisa bertaubat itu adalah Rizki, karunia, jalan menuju cinta Allah. Apapun kejadiannya, yang membuat kita bisa bertaubat itu semua adalah jalan untuk mendapat cinta Allah. Kejadian apapun, sepahit apapun, segetir apapun yang membuat kita semakin bersih maka itu adalah nikmat dari Allah, Karunia yang membuat kita bisa termasuk orang yang dicintai Allah. Jangan sibuk melihat kemudahan, kelapangan, pujian, penghargaan, mendapatkan apa yang kita inginkan, mencapai apa yang kita sukai belum tentu nikmat, itu belum tentu jalan untuk mendapat cinta Allah. 

Dalam melakukan aktivitas sehari-hari tentunya kita melakukan banyak kesalahan dan dosa. Jika kita bersungguh-sungguh dalm meraih cinta Allah, akan senantiasa beristighfar dan bertaubat terhadap semua dosa yang diperbuat. Yang patut kita ingat "APAPUN YANG MEMBUAT KITA SEMAKIN BISA TAUBAT, APAPUN YANG MEMBUAT KITA SEMAKIN BERSIH ADALAH JALAN UNTUK MENDAPATKAN CINTA ALLAH...!!!". Jadi, taubat adalah salah satu jalan untuk meraih cinta Allah di dunia dan di Akhirat. 

Sedangkan dalam hadis Nabi dijelaskan bahwasannya orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :

(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain

(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan

(3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.

Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.

Dalam kisah-kisah yang lain disebutkan Sesungguhnya di antara sebab yang bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah membaca al Qur`an dengan khusyu' dan berusaha memahaminya. Sehingga tidak mengherankan, apabila kedekatan dengan al Qur`an merupakan perwujudan ibadah yang bisa mendatangkan cinta Allah. Para salafush-shalih, ketika membaca al Qur`an, mereka sangat menghayati makna ini. Sehingga ketika membaca al Qur`an, seolah-olah seperti seorang perantau yang sedang membaca sebuah surat dari kekasihnya.  Al Hasan al Basri berkata,"Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap al Qur`an adalah surat-surat dari Rabb mereka. Pada malam hari, mereka selalu merenunginya, dan akan berusaha mencarinya pada siang hari". Seandainya kita berpikir, sungguh ini merupakan keistimewaan yang luar biasa. Allah Yang Maha Besar, Maha Tinggi, Raja Diraja, mengkhususkan khitab (pembicaraan) dan kalamNya untuk manusia yang penuh dengan kelemahan ini. Allah memberikan kepada mereka kemuliaan untuk berbicara, berkomunikasi dengan-Nya. 

Kesimpulannya, cara-cara untuk meraih cinta Allah di dunia dan akhirat diantaranya adalah senantiasa bertaubat ketika dalam  kesesatan, dan senantiasa menjadikan al-Qur’an tidak hanya sebagai bacaan semata tetapi sebagai pedoman hidup juga yang nantinya akan menuntun kita untuh meraih cintaNya di dunia maupun di akhirat.   

-Akh Eko Siswanto-